Limbah masih menjadi permasalahan pelik di Indonesia, yang mana merupakan penyebab pencemaran lingkungan nomor satu. Walaupun proyek IPAL yang merupakan teknik pengolahan limbah modern namun sederhana telah cukup lama disosialisasikan kepada masyarakat, faktanya kesadaran untuk mengolah limbah masih sangatlah rendah. Padahal, limbah yang tidak diolah dapat menimbulkan banyak kerugian untuk lingkungan secara keseluruhan, baik flora, fauna, pun dengan manusianya sendiri. Dan, untuk memulai proses pengaplikasiannya seseorang atau kelompok memang dituntut harus memiliki cukup pengetahuan dasar. Salah satunya mengenai macam-macam limbah.

Macam Limbah Untuk Pengaplikasian IPAL

Limbah pertama yang dapat diolah dengan teknik IPAL adalah limbah rumah tangga atau skala kecil dan terdiri dari dua macam, yakni limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berupa sisa makanan, wadah makanan, hingga plastik. Sedangkan limbah cairnya berupa air WC dan hasil cucian deterjen. Limbah padat memerlukan pengolahan sendiri oleh pemilik rumah, sedangkan limbah cair dapat diolah bersama dengan tetangga sekitar. Pengolahan limbah rumah tangga pun tergolong lebih mudah dibandingkan pengolahan limbah lain.

Limbah pabrik menjadi limbah kedua yang dapat diolah untuk dipisahkan senyawanya agar menjadi tidak berbahaya untuk dialirkan ke sumber perairan terdekat. Untuk pabrik skala menengah yang berdiri di dekat atau bahkan tengah pemukiman warga, biasanya mengalirkan limbah produksinya ke tempat yang sama dengan pembuangan limbah rumah tangga di sekelilingnya. Padahal limbah pabrik umumnya mengandung senyawa gas beracun yang jika terhirup oleh makhluk hidup saja dapat menimbulkan dampak serius, apalagi tersebar melalui perairan yang mengaliri kawasan padat penduduk.

Dan, limbah terakhir yang wajib diolah adalah limbah industri. Pabrik atau perusahaan yang menghasilkan limbah ini adalah badan usaha skala besar yang tentunya memiliki pula limbah dengan volume lebih yang diarahkan langsung ke waduk, danau, bahkan laut. Padahal jika tidak menjalani IPAL terlebih dahulu, limbah tersebut berpotensi lebih besar untuk menghasilkan kerusakan lingkungan, terutama ekosistem. Mulai dari fauna, flora, hingga manusia secara massal dapat teracuni atau terjangkit penyakit oleh paparan limbah kima volume besar itu dan menyebabkan kerusakan berkelanjutan.